Di Balik Kisah Jenazah Berdarah

shares


Hallo man teman, jangan lupa untuk selalu membaca sampai selesai yapp... Jangan hanya sekilas saja. Dan setelah membaca sampai selesai biasakan meninggalkan komentar yapp biar saya semakin semangat buat artikel-artikel.

GABUNG JUGA YUK DI GRUP WHATSAPP SAHABAT MAS IFAN 🙏 😍 JOIN GRUP KONTAK WA 0857-4376-2477
Ilustrasi ( Source )
Berbagi Bersama Mas Ifan - Hingga kini, cerita sosok Subekti (bukan nama sebenarnya) masih saja disinggung warga di kampung itu. Meskipun Subekti sudah wafat beberapa tahun silam, namun antusias warga masih terdengar tatkla membicarakan kehidupan subekti.

“Saya rasa keanehan yang terjadi saat pemakaman subekti itu karena ulahnya sendiri,” celetuk Santo, seorang pedagang pasar.

“Iya,Ya. Benar-benar tidak nyangka aja. Padahal Pak Bekti itu kan orangnya baik. Tidak pernah di cap jelek oleh masyarakat di sini,” sambung pedagang yang lainnya juga.

Dari dialog beberapa pegangan di pasar tersebut, ada yang menyebut bahwa meninggalnya subekti tidak memncerminkankehidupan pribadinya. Bahkan, kematian subekti saat itu banyak menimbulkan sejumlah keganjilan nyata.

Setidaknya yang membuat warga heran adalah sifat baik pada diri subekti. Namun saat kematiannya sangat tidak lazim. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?.

KEMATIANNYA GANJIL

Petang itu subekti measih terlihat di mushala. Ia duduk bersila seraya terus memegang tasbih. Rupanya ia baru saja menjalankan shalat Maghrib bersama tetangga. Di kampung kecil di daerah Jakarta tersebut subekti memang dikenal baik oleh warganya. Sikap ramah dan santun  kerap membuat warga segan terhadap subekti.

Tak hanya itu, bahkan seluruh warga sekitar menaruh hormat kepada keluarganya. Kediaman di daerah subekti sangat ramai. Kepadatan di kampung itu juga dikarenakan lokasinya yang berdampingan dengan pasar. Hampir setiap hari ada saja perbincangan dari warga mengenai peristiwa ataupun gosip. Demikian juga dengan subekti. Namanya selalu disebut-sebut karena kepribadiannya yang terbilang baik.

Dikehidupan pribadinya pun, tidak ada maslah yang mencolok antara subekti, itri, dan ketiga anaknya.Mereka terlihat sangat harmonis. Tidal pernah sekalipun terdengar sampai di telinga warga jika ada kegaduhan yang berasal dari keluarganya. Hal inilah yang membuat earga takjub dengan kepribadian subekti.

Selain itu, di kalangan sosial, pribadi subekti juga tergolong baik. Sisi rasa kemanusiannya yang tinggi membuat orang lain meras terharu. Sebab, sifat subekti yang senang menolong itulah yang membuatnya di hormati warganya.

Manginjak usia separuh bad. Subekti menderita penyakit. Sakit yang semakin parah akhirnya membuat subekti menghadap Illahi.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun,” kata Dirman, tetangga subekti.

“Iya, semoga amak baiknya di terima Allah SWT. Apa lagi Pak Bekti ini orangnya baik,” ucap Santo.

DARAHNYA MENETES

Meninggalnya subekti begitu cepat menyebar hingga ke kampung sebelah. Mayoritas di kampung kediaman subekti, semuanya merasa berduka atas kepergiannya. Warga lantas bergegas memadati kediaman rumah duka subekti.

Puluhan warga melayat dengan tujuan mendoakan dan turut memakamkan jenazah subekti. Sementara keluarganya sendiri sudah mengurus jenazahnya. Mulaid ari memandikan, mengakafani, dan menyalatinya. Hingga akhirnya proses pemakaman segera dilangsungkan. Jarak pemakaman umum dengan kediaman dubekti tidak terlalu jauh jika ditempung dengan kendaraan.

Namu, karena di kampung itu belum ada keranda yang didorng ataupun mobil pengantar jenazah, maka proses pemakaman dilakukan dengan mengotong secara bergantian. Begitu dishalati, jenazah subekti siap untuk diantar ke pemakaman umum. Warga yang turut mengantar jenazahnya terlihat berderat dan berbaris lurus menjadi dua. Mereka sudah siap untuk bergantian menggotong jenazah subekti.

“Har, kamu yang didepan aku ya,” pinta Wawan kepada Harto.

“Iya, entar kita gantian aje mengangkatnya dengan yang lain,” sahutnya.

Harto dan Wawan merupakan tetangga yang paling dekat dengan subekti. Mereka bisa dikatakan tau persis kehidupan subekt. Termasuk kisah rumah tangga subekti. Namun keduanya tak mau terlibat dengan kisah kepribadian subekti. Mereka hanya ingin membantu saat proses pemakaman subekti.

Di tengah terik matahari yang panas siang itu, warga masih terlihat bergantian menggotong jenazah subekti. Dari kejauhan, sangat lambat perjalanan mengantar jenazah subekti. Mungkin jarak tempuh yang jauh karena hanya dengan berjalan.

Begitu di tengah perjalanan, Harto kaget bukan kepalang lantaran di baju koko berwarna putih tersebut banyak noda merah di lengan sebelah kirinya.

“Har, bajumu kotor sekali sih. Liat tuh,” tegur Wawan.

Harto yang sibuk menggotong kemudian tersadar begitu melihat baju di lengan kirinya dipenuhi noda berwarna merah.

“Astagfirullah, kok bisa kotor gini ya?” celoteh Harto.

Tahu bajunya kotor, Harto lantas tidak melanjutkan menggotong sampai ke pemakaman. Ia bergegas puang dengan tujuan mengganti bajunya yang kotor. Sesampai dari rumahnya, Harto kembali mengamati noda berwarna merah di bajunya tersebut. Sambil bergumam sendiri, ia berpikir dari manakah asalnya noda merah itu. Semakin dilihat, Harto yakin bahwa noda merah itu adalah darah.

Apalagi ketika ia mengusap bercak noda merahnya.

Memang benar bahwa noda yang mengotori baju Harto merupakan tetesan darah segar. Sebabnya, begitu diusap denga jari, darah itu masih cair dan membekas di jari.

Akhirnya dengan segera Harto ganti baju dan kembali menyusul warga yang lain untuk memakamkan jenazah subekti.

Anehnya, noda berwarna merahtersebut tak hanya di baju Harto saja. Sampai dengan pengantaran jenazah subekti, ternyata Wawan jugamengalami hal yang sma. Awalnya dia  tak menyadari jika bahunya sama terkena sadar. Namun begitu selesai menggotong jenazahnya, Wawan bukan kepalang kagetnya.

“Har, ternyata bajuku juga terkena kotoran yang sama yang kamu alami. Busyet, kok seperti darah ya? Banyak sekali,” tanya Wawan kepada Harto.

“Itu darah,Wan. Benar darah. Baunya Amis sekali.”

“Tapi dari mana asalnya?”

“Jangan-jangan dadri jenazah Pak Bekti?”

“Ah jangan ngawur Har. Tidak mungkin. Bagaimana mayat masih mengeluarkan darah. Liat ni, baju saya lebihbanyak darahnya,” tegas Wawan sambil menunjukkan darah yangmasih terlihat di bajunya.

KHIANATI ISTRI

Ternyata benar sekali dugaan Wawan dan Harto yang menyangka noda itu adalah darah. Pasalnya, tidak hanya mereka berdua yang terkena tetesan darah dari keranda subekti, melainkan semua warga yang ikut menggotong jenazahnya.

Semua bertanya-tanya mengapa jenazah subekti terus mengeluarkan darah. Padahal, sebab kematian pun juga karena sakit biasa dan bukan karena kecelakaan. Kemudian, umumnya jenazah yang meninggal dipastikan darahnya akan membeku. Tapi apa yang terjdi pada jenazah subekti ini membuat warga geleng-geleng kepala.

Setelah ditanyakan ke pihak keluarga, mereka membernarkan bahwa pada saat memandikan jenazah subekti, sempat di bagian hidung dan telinga meneteskan darah. Namun tidak sebanyak yang diungkapkan para warga.

Warga mengatakan jika darah yang keluar dari bagiantubuh subekti menetes dangat deras. Anehnya lagi,hidung sdan telinga itu sudah disumpal kapas, tapi masih saja menetes terus.

Kontan saja secepat kilat keganjilan saat penguburan jenazah subekti menjadi perbincangan warga di wilayah itu. Berbagai  dugaan dan tanggapan siih berganti. Ada yang menduka jika itu hanya karen afaktor medis. Ada juga yang mengira jika itu ada sangkut pautnya dengan kehidupan masa lalu subekti. Yang jelas, sebagian besar warga lain menduga jika hal itu bukan dikarenakan faktor medis.

Sebab yang paling mudah dilihat yakni darah itu tersus menetes dengan deras. Apalagi jika dinilai, tidak mungkin darah itu terus menetes sampai mengotori baju warga yang ikut menggotongnya.

“Saya yakin kalai itu ada perbuatan buruk yang dilakukan Pak Bekti. Tapi entahlah, itu semua kan hanya almarhum dan keluarganya,” jelas Harto kepada warga yang membincangkan misterijenazah subekti yang berdarah.

Usut punya usut, keluarga yang benar-benar mengetahui kepribadian aubekti sejak ia membina rumah tangga adalah saudranya sendiri Tina(bukan nama sebenarnya). Tina tau persis keburukan dibalik subekti selama ini

Sebenarnya, kata Tina, subekti memiliki banyak kesalahn kepada orang lain. Tapi bukan dari warga di kampung itu. Keburukan itu sengaja di tutupi subekti dengan sejumlah kebaikan lainnya agar tidak malu dan tidak menjadipergunjingan. Kendati demikian, yang namanya bangkaipasti akan tercium juga busuknya. Begitu ungapan Tina tentang subekti.

Jauh sebelum subekti meninggal, Tina tahu jika adiknya ini suka bermain wanita. Padahal posisi subekti sudah menjadi kepala keluarga. Yang membuat malu keluarganya, subekti itu di goda sudah bersuami.

“Tak hanya sekali subekti seperti itu. Pernah sampai suami wanita lain ngelabrak Istri subekti karena ia memacari istri orang dan menggaulinya juga. Itu terus berulang sampai dia wafat,” terang Tina.
Ternyata sakit hati para suami-suami yang lain membuat subekti kerap disumpahi mati yang tidak wajar. Anehnya, hingga ajal menjemput, subekti tetap saja tidak bertobat.

Malahan, ia berlindung dengan banyak melakukan kebaikan. Namun tetap saja mengandeng perempuan-perempuan yang sudah bersuami. Terakhir ia kepergok bersama wanita lain yang berada jauh dari kediamannya. Astagfirullahalaziim.

Baca Juga Yang Ini yapp

BUAT TEMEN-TEMEN YANG MAU GABUNG JADI SAHABAT MAS IFAN DI GRUP WA BISA KONTAK SAYA DISINI WA 0857-4376-2477, JADI YANG PALING PERTAMA TAHU ADA ARTIKEL MENARIK DAN KEGIATAN MAS IFAN DI GRUP WA SECARA LANGSUNG... ENJOYY