Rajin Berzikir, Wafat Sesuai Wafat

shares


Hallo man teman, jangan lupa untuk selalu membaca sampai selesai yapp... Jangan hanya sekilas saja. Dan setelah membaca sampai selesai biasakan meninggalkan komentar yapp biar saya semakin semangat buat artikel-artikel.

GABUNG JUGA YUK DI GRUP WHATSAPP SAHABAT MAS IFAN 🙏 😍 JOIN GRUP KONTAK WA 0831-9534-4214
Ilustrasi ( Source )
Berbagi Bersama Mas Ifan - Tak ada yang tahu kapan seorang akan di panggil oleh allah SWT.tapi,tak sedikit orang yang meninggalkan firasat menjelang wafatnya. Begitulah isyarat wafat ahli zikir yang satu ini. Sebelum wafat,ia menunjukkan jam kapan ia dipanggil.tapi, semua keluarganya tak menduga itulah firasat kematiannya.

Keinginan dan firasat kematian seorang pedagang soto di Surabaya,Pak Tipan,persis,dan benar terjadi. Almarhum tiap hari berkerja sebagai pedagang soto bersama istrinya ini meninggalpada usia 49 tahun. Pria ini dikenal rajin berzikir ini meninggalkan banyak firasat kepada anak dan istrinya,Hj.Maesaroh,sebelum akhirnya ia kembali pada sang Khalid.

Sebenarnya Pak Tipan mengidap diabetes menahun.  Awal  2003 lalu,penyakitnya tersebut seperti hilang. Ia pun terlihat sehat.

Almarhum pun senang melihat kondisinya yang kembali pulih. Keluarga dan anak-anaknya pun ikut senang dengan kesembuhan penyakit sang ayah.

Namun,kesehatan Pak Tipan itu tidak berlangsung lama. Sore hari usai sholat asar,dia berniat ingin berjalan jalan ke depan rumah. Tiba-tiba saja ia terjatuh tepat di depan pintu rumahnya.

Takut terjadi apa-apa dengan kesehatannya,dia pun langsung di larikan ke rumah sakit. Istri dan anak-anaknya pun ikut menjaga dirumah sakit.

Malam ke-2 di rumah sakit ia bertanya kepada istrinya ,”pukul berapa sekarang,Bu?”tanyanya.
“pukul sepuluh,Pak,”jawab Hj.maesaroh.

Tak terbesit di benak wanita itu akan terjadi sesuatu pada suaminya saat itu. Sementara itu,entah sudah merasakan sesuatu yang aneh, Pak Tipan menegaskan ucapannya . “ Oh, pukul sepeluh ya.”
“Ya, Pak.” Sambung istrinya.

Mendengar jawaban tersebut, Pak Tipan meminta istrinya untuk mengumpulkan anak-anaknya. “Tolong kumpulkan anak-anak sekarang,” seru ser Pak Tipan.

“Loh, ada apa, Pak?” sahut sang istri.

“Ndak,” jawabnya singkat.

Meski merasa agak aneh, namun Hj Maesaroh pun menuriti permintaan suaminya. Ia meminta anak-anaknya pulang karena memang besok mereka harus bekerja. Meski sebenarnya  besok hari minggu dan pekerjaan libur, anak-anak Pak Tipan mengiyakan permintaan ayahnya tersebut.

“Bu,anak-anak suruh pulang karena besok harus bekerja. Tidak usah mengkhawatirkan saya. Nanti pukul dua saya pulang,” pinta Tipan kepada istrinya.

Ketika semua anak-anaknya sudah pulang dari rumah sakit itu, Pak Tipan kembali menanyakan jam kepada istrinya. Kali ini jam sudah  menunjukkan pukul 12 malam.

Sedikit berbeda dengan yang pertama. Setelah mendengar jawaban istri bahwa sudah pukul 12 malam, Pak Tipan meminta istrinya untuk tidur di dadanya.

“Tenang ya, Bu, pukul dua nanti saya pulang,” tutur almarhum kepada istrinya untuk kali kedua.
Mimpi yang aneh.

Didada suaminya, Hj Maesaroh pun terlelap. Masih kuat dalam ingatan perempuan tersebut, saat dirinya tertidur, ia bermimpi bahwa Pak Tipan di jemput oleh keluarganya dari Lamongan dengan menggunakan kereta kuda. Dalam mimpi itu maesaroh bertanya kepada keluarganya, kenapa jauh-jauh dari Lamongan ke Surabaya naik kereta kuda.

“Bukanya lebih cepat naik mobil,” ucap Maesaroh.

Dalam mimpinya, Hj Maesaroh kemudian diberikan selembar kain hijau bertuliskan Laa llaaha illallah Nuhammad Rasulullah.

Bersama dengan itu saudaranya tersebut membuka kain penutup kereta kuda serta bergegas jalan. Oleh Hj Maesaroh, kereta kda dalam mimpinya tersebut terlihat menyala terang. Kereta kuda tersebut berjalan secepat kilat m,eninggalkannya.

Disaat yang bersamaan Hj Maesaroh merakan tiupan dari suaminya tepat diwajahnya sebanyak tiga kali. Saat dirinya terbangun, suaminya tersebut sudah tidak bernyawa lagi dengan wajah tersenyum tepat pukul 02.00 dini hari.

Kematian Pak Tipan pada pukul 02.00 dini hari tersebut tepat pada hari minggu. Dijelaskan oleh istri almarhum bahwa sebelumnya Pak Tipan  pernah berucap kepadanya bahwa almarhum inginmeninggal di hari minggu.

“Besok kalau saya meninggal m,inta hari minggu saja supaya banyak yang takziah dan ikut menyalati jenazahku. Karena, jika yang menyalati lebih dari 40 orang, maka dosa-dosa kita rontok,” ucap Hj Maesaroh menirukan ucapan suaminya.

Ternyata keinginan Pak Tipan ini terijabah. Ia benar-benar meninggalpada hari minggu seperti apa yang diinginkannya semasa hidup.Bahkan dibalik dirinya yang pendiam, banyak sekali orang-orang yang melayat kematiannya.

Puluhan mobil mengiringi pemakaman almarhum di Desa Gajah, Kecamatan Deket, Lamongan, Jawa Timur. Ratusan orang pun ikut melayati jenazah almarhum sebelum dimakamkan.

Beberapa bulan sebelumnya Pak Tipan pun berencana akan naik haji dibiayai oleh orang tuanya.

Dijelaskan oleh Hj Maesaroh bahwa setelah mendapat kabar akan berangkat haji, Pak Tipan justru menngis tersedu-sedu. Ia pun akhirnya bertanya kepada suaminya, apa yang membuantnya menangis seperti itu.

Lantas, Pak Tipan pun menjawab bahwa ia akan diberangkatkan haji oleh orang tuanya. Maesaroh pun menyambut bahagia dengan kabar tersebut. Namun, berbeda dengan tipan. Ia justru tidak berkehendak dengan niat orang tuanya lantaran orang tua Tipan hanya membiayai keberangkaatan hajinya dan bukan dengan istrinya.

Namun, Maesaroh tetap senang dengan kabar tersebut meski dirinya tidak ikut. Saking tidak inginnya berangkat haji sendiri, Pak Tipan mengatakan kepada sang istri bahwa lebih baik dirinya meninggal daripada harus berangkat haji sendiri.

Kalimat yang tak sengaja terucap oleh Pak Tipan itu akhirnya benar pula terjadi. Delapan bulan setelah rencana keberangkatan hajinya tersebut dirinya meninggal. Namun, karena belum sempat naik haji, Pak Tipan pun akhirnya dibadalhajikan oleh orang tuanya.

Rajin Berzikir

Kepergian yang istimewa dari almarhum punmengundang banyak orang kagum. Tidak sedikit orang yang mengingatkannya dengan kebaikan dan ibadahnya semasa hidup.

Ternyata benar, dari hasil penelusuran, semasa hidup almarhum memang rajin ibadah, lebih-lebih berzikir dan istighosah. Apalagi dia termasuk anggota jamaah istoghosah di Surabaya. Karena kerajinanya mengikuti acara istighosah, ia sangat akrab dengan kiai yang memimpin jamaah tersebut.

Menurut istri almarhum, almarhum Pak Tipan selalu melakukan zikir usai jamaah shalat Isya’. Dan, ini menjadi rutinitas dia semasa hidup. Serta, mengikuti acara istighosah juga menjadi rutinitasnya.
“dia selalu meminta saya agar tidur lebih awal. Setengah malam, dia membangunkan saya untuk menunaikan salat malam,” jelasnya.

Jika tak ada keperluan penting, lanjut Hj Maesaroh, suaminya tersebut jarang mau untuk keluar rumah. Namun jika adaa  acara-acara keagamaan, almarhum selalu rajin datang. Mantan anggota barisan serba guna (Banser) ini memang terkenal alim dikalangan teman-temannya. Selain alim, pria pedagang soto asal Lamongan itu juga dikenal sebagai seorang yang pemberani.

Baca Juga Yang Ini yapp

BUAT TEMEN-TEMEN YANG MAU GABUNG JADI SAHABAT MAS IFAN DI GRUP WA BISA KONTAK SAYA DISINI WA 0831-9534-4214, JADI YANG PALING PERTAMA TAHU ADA ARTIKEL MENARIK DAN KEGIATAN MAS IFAN DI GRUP WA SECARA LANGSUNG... ENJOYY